Media Vietnam dan Singapura Soroti Pertumbuhan Ekonomi RI 5,12%, Ini Komentar Mereka!

Estimated read time 4 min read



– Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II (April-Juni) 2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian ini kemudian mendapat sorotan dari sejumlah media internasional, seperti Reuters, Nikkei Asia, dan beberapa media asing lainnya.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengaku tidak percaya dengan laporan BPS tersebut.

“Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 penuh kejanggalan dan tanda tanya publik. Saya tidak percaya dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya,” ujarnya dikutip


, Rabu (6/8/2025).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 5,12 persen tersebut nyatanya turut disorot oleh sejumlah media asing, termasuk

Reuters

dan

Channel News Asia

(CNA).

Media asing soroti pertumbuhan ekonomi Indonesia

Berikut adalah beberapa kata media asing soal pertumbuhan ekonomi Indonesia:

1.

Reuters

: PDB Indonesia triwulan II tumbuh di atas ekspektasi, tercepat dalam dua tahun

Dalam pemberitaannya,

Reuters

menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua lebih baik dari perkiraan.

Peningkatkan ini didorong oleh investasi dan belanja rumah tangga yang kuat dan menunjukkan laju tercepat sejak kuartal kedua 2023.

“Data BPS yang dirilis Selasa menunjukkan produk domestik bruto (PDB) naik menjadi 5,12 persen, meningkat dari 4,87 persen pada kuartal sebelumnya, dan melampaui perkiraan dalam jajak pendapat Reuters sebesar 4,80 persen,” tulis

Reuters

, Selasa (5/8/2025).

Dalam pemberitaannya, media yang berkantor pusat di London, Inggris itu turut menukil pandangan dari Ekonom DBS Bank, Radhika Rao.

Disebutkan bahwa menurut Radhika, pertumbuhan ini merupakan kejutan positif dibandingkan dengan prediksi mereka. Perbedaannya kemungkinan disebabkan oleh neraca ekspor-impor yang menguntungkan, karena adanya percepatan pengiriman pesanan ekspor.

Pertumbuhan ini terjadi meskipun ada kekhawatiran terkait melemahnya sejumlah indikator ekonomi, seperti penurunan penjualan mobil, menurunnya kepercayaan konsumen, dan indeks manufaktur yang menunjukkan kontraksi.

Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari setengah PDB Indonesia, tumbuh sedikit menjadi 4,97 persen (year-on-year) pada kuartal kedua, dibandingkan 4,95 persen di kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pengeluaran untuk makanan dan perjalanan selama sejumlah hari libur keagamaan dan liburan sekolah.

Sementara itu, pertumbuhan investasi melonjak tajam menjadi 6,99 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir, dari sebelumnya hanya 2,12 persen.

Hal ini didukung oleh proyek-proyek infrastruktur, termasuk perluasan sistem MRT Jakarta.

Ekspor juga meningkat, terutama dari pengiriman minyak nabati, logam, produk elektronik, dan suku cadang kendaraan.

Banyak pembeli luar negeri yang mempercepat pemesanan sebelum tarif impor AS diberlakukan, sehingga nilai ekspor naik di paruh pertama tahun ini.

“Pemerintah menyatakan akan terus memberikan dukungan fiskal untuk menjaga pertumbuhan di paruh kedua tahun ini,” tulis

Reuters

.

Adapun salah satunya dengan memperpanjang insentif pajak untuk pembelian rumah dengan nilai tertentu hingga Desember, serta memberikan diskon tiket pesawat untuk mendorong belanja masyarakat saat libur akhir tahun

2. Nikkei Asia: PDB Indonesia melampaui ekspektasi, ekspor dan impor melonjak

Media Jepang,

Nikkei Asia,

turut menyoroti pertumbuhan PDB Indonesia yang melampaui ekspektasi dengan 5,12 persen di triwulan II 2025.

“Perekonomian Indonesia tumbuh 5,12 persen pada periode April-Juni 2025 dibandingkan tahun sebelumnya,” tulisnya, Selasa.

Kondisi ini, tambah media tersebut, didorong oleh lonjakan ekspor dan belanja pemerintah, menurut BPS RI pada Selasa (5/8/2025).

3. Channel News Asia


Channel News Asia (CNA)

menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia meningkat menjadi 5,12 persen pada kuartal kedua dari 4,87 persen pada tiga bulan sebelumnya.

“Jajak pendapat Reuters memperkirakan pertumbuhan sebesar 4,80 persen. Data dari BPS menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kuartal kedua ini merupakan yang tercepat sejak kuartal kedua tahun 2023,” tulis Media yang berbasis di Singapura itu, Selasa.

Media tersebut menulis bahwa menurut Badan Pusat Statistik, PDB tumbuh 4,04 persen pada April–Juni secara kuartalan (non-musiman).

4. Bao Moi: Ekonomi terbesar di Asia Tenggara tumbuh lebih cepat dari perkiraan

Dalam artikelnya, media lokal Vietnam, Bao Moi, menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 5,12 persen pada triwulan II, naik dari 4,87 persen di triwulan I.

“Peningkatan ini melampaui prediksi banyak lembaga ekonomi yang sebelumnya memperkirakan di bawah 5 persen,” tulisnya, Rabu.

Menurut data BPS, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama, dengan kontribusi sebesar 2,64 persen terhadap pertumbuhan PDB.

Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang mencerminkan aktivitas investasi, juga menyumbang 2,06 persen.

“Sebaliknya, belanja pemerintah justru mencatatkan angka negatif sebesar -0,22 persen, menunjukkan pemulihan pengeluaran negara yang masih lambat,” tulis Bao Moi.

Padahal sebelumnya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI) dalam laporan “Analisis Makroekonomi dan Prospek Ekonomi Indonesia”, memperkirakan pertumbuhan triwulan II hanya sekitar 4,78–4,82 persen.

Proyeksi itu disebabkan oleh daya beli yang lemah, transisi politik, dan iklim investasi yang masih menghadapi berbagai hambatan.

Laporan tersebut juga menyoroti tantangan struktural seperti ketergantungan pada ekspor komoditas mentah, produktivitas rendah, serta ketegangan dagang global, khususnya dampak dari kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours