– Pernahkah kamu berniat buka HP sebentar untuk cari kabar, tapi malah keterusan
scroll
berjam-jam? Isinya pun bukan hal yang bikin senang, melainkan berita-berita negatif yang bikin was-was. Nah, kebiasaan itu ada istilahnya, yaitu doomscrolling.
Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan menghabiskan waktu terlalu lama membaca informasi negatif di media sosial atau portal berita.
Melansir dari Halodoc, otak manusia memang lebih cepat merespons berita buruk daripada kabar baik. Jadi, tanpa sadar kita terdorong untuk terus mencari berita serupa, meskipun itu bikin perasaan makin tertekan.
Penyebab dan Dampak Doomscrolling
Fenomena ini mulai banyak terjadi sejak pandemi COVID-19. Waktu itu, hampir semua orang mengandalkan media sosial untuk mencari informasi.
Masalahnya, berita yang beredar sering kali bikin panik, dari jumlah kasus, teori konspirasi, sampai kabar hoaks. Menurut Alodokter, jika terus-menerus mengonsumsi konten negatif, dampaknya bisa memicu stres, susah tidur, bahkan rasa cemas berlebihan.
Dari sisi akademis, Jurnal FLE (2023) menyebut doomscrolling sebagai bentuk perilaku kompulsif. Artinya, meskipun kita sadar kebiasaan itu tidak sehat, tetap saja susah untuk berhenti. Mirip seperti orang yang tahu ngemil tengah malam bikin berat badan naik, tapi tidak bisa menahan diri. Jika dibiarkan, energi mental akan cepat habis untuk hal-hal yang tidak produktif.
Efek buruknya juga dijelaskan dalam Buletin K-PIN. Kebiasaan membaca berita negatif secara berlebihan bisa bikin seseorang gampang tersulut emosi, cepat marah, dan susah fokus.
Bahkan, hubungan sosial pun bisa terganggu karena pikiran kita terus dipenuhi hal-hal yang bikin stres. Jadi, doomscrolling jelas bukan sekadar ”
scrolling
biasa”, tapi bisa jadi masalah serius jika terus dibiarkan.
Mengendalikan Kebiasaan Buruk
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikendalikan. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba, misalnya membatasi waktu main media sosial dengan fitur
screen time
. Kita juga bisa sengaja cari konten positif untuk menyeimbangkan emosi, atau bikin jadwal khusus untuk baca berita, jadi tidak setiap saat buka
timeline
.
Selain itu, melatih
mindfulness
juga penting. Caranya bisa lewat pernapasan dalam, meditasi singkat, atau
journaling
. Aktivitas kecil seperti olahraga ringan, jalan santai sore hari, atau ngobrol sama teman juga bisa membantu otak berhenti dari kebiasaan doomscrolling.
Menurut Undiknas, kunci utamanya ada pada kesadaran diri. Begitu sadar jika doomscrolling bikin stres, langkah pertama adalah berhenti sebentar dan alihkan perhatian ke hal yang lebih sehat.
Di era digital sekarang, istilah
digital well-being
atau kesejahteraan digital juga makin sering dibicarakan. Intinya, kita perlu lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi informasi.
Caranya dengan memilih sumber berita yang terpercaya, melakukan detoks digital (misalnya sehari tanpa media sosial), dan memberi porsi lebih besar untuk aktivitas
offline
yang bikin hati lebih tenang. Dengan begitu, pikiran bisa lebih seimbang dan tidak terus-terusan terjebak di siklus berita negatif.
Pada akhirnya, doomscrolling wajar terjadi di zaman serba
online
. Tapi, jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini bisa menguras energi, bikin
mood
berantakan, dan mengganggu kesehatan mental. Jadi, penting untuk sadar kapan harus berhenti. Ingat,
update
berita memang perlu, tapi menjaga pikiran tetap tenang jauh lebih penting.
+ There are no comments
Add yours